Berikut Fakta Brazil Gagal Hadapi Ancaman COVID-19
Ilustrasi, sumber foto: RAPHAEL ALVES/EPA-EFE/Shutterstock/mirror.co.uk
TANGKAS DOMINO - Pakar kesehatan di Brasil menyampaikan keprihatinannya tentang kesiapan pemerintah Brazil dalam menghadapi ancaman gelombang ketiga penyebaran COVID-19. Runtuhnya sistem kesehatan pasca gelombang pertama dan kedua yang begitu tak terkendali menyebabkan sekitar 470.000 warga Brasil menjadi korban.
Dikutip dari CNBC, parlemen Brazil sedang menyelidiki tragedi yang diyakininya harus dihindari. Parlemen akan mencari tahu apa dan siapa yang salah, khususnya di pemerintahan Presiden Jair Bolsonaro.
Meski rekor jumlah kematian akibat COVID-19 di Brasil saat ini menurun, yakni 1.600 orang per hari, namun tidak ada jaminan Brasil akan terhindar dari gelombang ketiga. Sebelumnya pada April 2021, Kementerian Kesehatan Brasil mencatat setidaknya 3.000 pasien COVID-19 meninggal per hari.
Berikut penjelasan beberapa alasan dan implikasi utama kegagalan penanggulangan COVID-19 di bawah komando Presiden Bolsonaro.
Program vaksinasi berjalan lambat
Menurut laporan AFP, dari 212 juta penduduk Brasil hanya sekitar 10,5 persen atau sekitar 22 juta orang yang telah divaksinasi. Angka ini cukup kecil untuk sebuah negara dengan jumlah penduduk yang cukup besar. Program vaksinasi di Brazil sendiri dinilai sangat lambat.
Kebijakan pemerintah yang tidak mempercepat proses vaksin secara besar-besaran. Kebijakan vaksin massal Brasil sedang diujicobakan di kota Serrana. Tercatat 95 persen dari 45.000 penduduk kota itu berhasil divaksinasi.
Berdasarkan data yang diperoleh, pemerintah Brasil berhasil menurunkan angka kematian akibat COVID-19 sebesar 95 persen serta kasus, tingkat perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit mengalami penurunan sebesar 86 persen. Meski tergolong sukses, masih belum jelas apakah Presiden Bolsonaro akan menerapkan strategi yang sama di kota dan daerah lain.
Program social distancing Brasil tidak diterapkan secara nasional
Banyak orang Brazil berpikir pandemi COVID-19 tidak benar-benar ada. Hal ini dibuktikan dengan kebebasan mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mematuhi aturan pembatasan protokol di tempat umum atau tempat kerja untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19, seperti dilansir AFP.
Banyak ahli berpendapat bahwa Brazil mengakui negara mereka sedang mengalami krisis besar akibat COVID-19. Tetapi mereka lebih memilih untuk melanjutkan kehidupan normal tanpa mempertimbangkan efek berbahaya jika pembatasan tidak diterapkan.
Brazil dinilai harus melakukan pembatasan besar-besaran dalam skala nasional dan sekaligus melakukan vaksinasi massal untuk mengendalikan penyebaran COVID-19 di komunitasnya yang masih tinggi kasusnya.
Bolsonaro masih mengabaikan rekomendasi pakar kesehatan
Presiden Jair Bolsonaro tergolong sebagai pemimpin dunia yang tidak percaya dengan pandemi COVID-19, meski telah terjangkit virus berbahaya tersebut. Kepemimpinannya yang skeptis terhadap COVID-19.
Dukungan penuh yang dia miliki di antara komunitas sayap kanan membuatnya sering mengabaikan rekomendasi para ahli kesehatan yang berusaha menghentikan penyebaran virus.
Bolsonaro berharap kelonggaran yang dia berikan kepada Brasil dalam menangani COVID-19 dapat membantunya memenangkan pemilihan presiden Brasil 2022. Namun, para ahli politik berpendapat bahwa kelonggaran inilah yang menyebabkan krisis kesehatan yang dapat menjatuhkan Jair Bolsonaro, CNBC melaporkan.
Dia membuat banyak janji bahwa semua orang Brazil akan divaksinasi sebelum 2021 berakhir. Namun, tanpa ada kebijakan konkrit yang diambil Bolsonaro dalam waktu dekat, elektabilitasnya dipastikan akan terus turun.





Post a Comment