Header AD

http://www.tangkasdomino.org/

PBB Khawatirkan Perang Sipil Bakal Terjadi di Myanmar dalam Waktu Dekat

 

Tangkas Domino - Kepala junta Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing, yang menggulingkan pemerintah terpilih dalam kudeta pada 1 Februari, memimpin parade militer pada Hari Angkatan Bersenjata di Naypyitaw, Myanmar, Sabtu (27/3/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer


Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengkhawatirkan perang sipil yang akan meletus di Myanmar dalam waktu dekat. Pernyataan itu merupakan tanggapan atas berbagai serangan yang dilakukan Tentara Pertahanan Rakyat (PDF) dalam kampanye perang defensif melawan junta.


Di tengah situasi yang memanas, PBB mengatakan bahwa dunia kehabisan waktu untuk memulihkan demokrasi dan mencegah konflik yang lebih luas di Burma.


"Konsekuensi nasionalnya mengerikan dan tragis, konsekuensi regional juga bisa sangat besar. Komunitas internasional harus melipatgandakan upayanya untuk memulihkan demokrasi dan mencegah konflik sebelum terlambat," kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet, Kamis (23/9/2021), dikutip dari AFP.


Perang sipil sudah di depan mata


Awal September lalu, National Unity Government (NUG) atau pemerintahan bayangan yang dipenuhi politisi Liga Demokrasi Nasional (NLD) mendeklarasikan perang defensif melawan junta. NUG juga memiliki basis militan yang tergabung dalam PDF, yaitu masyarakat sipil dan etnis minoritas bersenjata yang menentang kudeta militer.


Menurut Bachelet, memburuknya situasi kemanusiaan di Myanmar akan menghancurkan kehidupan dan harapan masyarakat.


"Konflik, kemiskinan, dan dampak pandemik meningkat tajam, dan negara menghadapi pusaran penindasan, kekerasan, dan keruntuhan ekonomi," katanya.


Di sisi lain, Bachelet juga menyoroti sikap represif junta yang justru mengangkat gerakan perlawanan, bukannya menekan gerakan pemberontakan.


"Tren ini menunjukkan kemungkinan yang mengkhawatirkan akan terjadinya perang saudara," katanya.


Lebih dari 1.100 orang tewas sejak kudeta


Bachelet mendesak masyarakat internasional untuk mendukung proses rekonsiliasi yang melibatkan semua pihak. Ia juga berharap ASEAN sebagai organisasi regional menggunakan semua instrumen, termasuk penerapan insentif dan sanksi, untuk membalikkan keadaan di Myanmar.


"Stabilitas Myanmar dan jalan menuju demokrasi serta kemakmuran telah dikorbankan selama beberapa bulan terakhir, untuk memajukan ambisi elit militer yang memiliki hak istimewa dan mengakar," katanya.


Kemudian, Bachelet mengatakan telah lebih dari 1.100 orang dilaporkan tewas di tangan aparat keamanan sejak 1 Februari 2021. Sementara itu, lebih dari 8.000 lainnya, termasuk anak-anak, telah ditangkap dan sekitar 4.700 orang masih ditahan.


Pria yang pernah menjadi Presiden Chili itu mendesak semua pihak, terutama militer, untuk memberikan akses tak terbatas pada bantuan kemanusiaan. Pada saat yang sama, ia berharap rezim junta yang dipimpin oleh Min Aung Hlaing segera membebaskan para tapol.


Dia meminta angkatan bersenjata untuk melindungi warga sipil dan penggunaan serangan udara dan artileri di daerah pemukiman harus segera dihentikan.


Junta menghanguskan desa lagi


Awal pekan ini, tentara membakar sebuah desa di Thantlang, negara bagian Chin dekat perbatasan India. Sekitar 10.000 orang terpaksa mengungsi untuk mencari perlindungan, lapor Reuters.


Media lokal Myanmar Now menambahkan bahwa serangan itu menewaskan seorang pendeta Kristen yang sedang berusaha memadamkan api.


"Pembunuhan seorang pendeta Baptis dan pemboman rumah-rumah di Thantlang, Negara Bagian Chin, adalah contoh terbaru dari neraka hidup yang disampaikan setiap hari oleh pasukan junta terhadap rakyat Myanmar," cuit Thomas Andrews, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar.


The Global New Light of Myanmar, media pemerintah, melaporkan bahwa ketegangan berasal dari pasukan pemerintah yang disergap oleh sekitar 100 teroris, istilah yang digunakan junta untuk PDF dan NUG. Akibatnya, kedua belah pihak terlibat baku tembak.


Menurut Salai Thang, seorang tokoh masyarakat, serangan junta itu adalah bagian dari serangkaian pembalasan atas serangan di pangkalan militer pada awal September.


Bentrokan baru-baru ini menyebabkan 30 anggota milisi Chin tewas.


Beberapa hari lalu, dilansir The Straits Times, PDF menyerang konvoi junta dengan bom di dekat Yangon. Serangan yang disusul dengan baku tembak itu juga menewaskan beberapa orang.


Kemudian, pada awal September, pengunjuk rasa anti-junta juga menghancurkan menara komunikasi Mytel milik pemerintah. Gerakan pemberontakan yang dikoordinir oleh NUG mulai membidik sumber daya bisnis militer, untuk melemahkan sumber daya mereka.

PBB Khawatirkan Perang Sipil Bakal Terjadi di Myanmar dalam Waktu Dekat PBB Khawatirkan Perang Sipil Bakal Terjadi di Myanmar dalam Waktu Dekat Reviewed by Dessy Kumalasari on October 14, 2021 Rating: 5

No comments

Post AD

http://www.tangkasdomino.org/